Yogyakarta, 21 April 2026 — China–Indonesia TVET Industry-Education Alliance (CITIEA) kembali menyelenggarakan konferensi tahunan berskala internasional yang mempertemukan perguruan tinggi, pelaku industri, asosiasi bisnis, dan pemerintah dalam satu panggung kolaborasi strategis. Kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada pada 27–28 April 2026 ini menjadi momentum penting dalam memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan vokasi dan kebutuhan industri global yang terus berkembang. Forum ini dirancang bukan hanya sebagai ruang diskusi, tetapi sebagai ekosistem kolaboratif yang mempertemukan pemangku kepentingan untuk merancang solusi nyata terhadap tantangan tenaga kerja masa depan, transformasi industri, serta kebutuhan kompetensi baru di era ekonomi digital dan industri berkelanjutan. Melalui forum ini, pendidikan vokasi ditempatkan sebagai fondasi utama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di tingkat internasional.

CITIEA sendiri merupakan aliansi kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok yang berfokus pada pengembangan Technical and Vocational Education and Training (TVET). Aliansi ini dibangun untuk menjawab kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri melalui penguatan kurikulum berbasis praktik, pengembangan teaching factory, mobilitas mahasiswa dan dosen, transfer teknologi, hingga kolaborasi riset terapan. Dalam beberapa tahun terakhir, model kerja sama lintas negara seperti ini semakin dibutuhkan karena dunia industri bergerak jauh lebih cepat dibanding perubahan sistem pendidikan konvensional. Kehadiran CITIEA menjadi jembatan penting agar perguruan tinggi vokasi mampu merespons kebutuhan global secara lebih tepat, terukur, dan relevan, sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Tiongkok melalui jalur pendidikan dan pengembangan talenta.

Rangkaian kegiatan hari pertama dibuka dengan seremoni resmi yang menghadirkan sejumlah tokoh penting dari lingkungan akademik, pemerintah, dan mitra internasional. Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan bahwa CITIEA 2026 merupakan forum strategis dalam menjawab kompleksitas tantangan global melalui kolaborasi pendidikan, inovasi, dan kemitraan lintas negara. UGM, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus memperluas sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Laporan kegiatan disampaikan oleh Dekan Sekolah Vokasi UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., yang memaparkan perkembangan aliansi CITIEA serta dampaknya terhadap penguatan pendidikan vokasi di tingkat regional. “CITIEA menjadi kolaborasi end-to-end yang menghubungkan pendidikan, pelatihan, dunia kerja, dan kerja sama internasional. Forum ini juga membuka akses magang global, pertukaran pelajar, serta mendorong inovasi vokasi antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Prof. Agus Maryono.

Salah satu agenda utama yang paling dinantikan adalah keynote speech oleh Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tiga disrupsi besar, yakni disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan geopolitik global. Menurutnya, berbagai perubahan tersebut tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, melainkan peluang strategis bagi negara-negara berkembang untuk melompat lebih cepat. “This is Asian Center. Mari Indonesia dan China menjadi motor kepemimpinan Asia di abad ini,” ujarnya. Pratikno juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mengubah lanskap dunia kerja. Ia menekankan bahwa institusi pendidikan, khususnya pendidikan vokasi, harus cepat beradaptasi melalui kurikulum yang responsif terhadap perubahan teknologi. “Manusia dengan AI-lah yang akan mengambil alih pekerjaan manusia yang tidak ber-AI,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kerja sama Indonesia–Tiongkok sangat strategis, terutama dalam pengembangan baterai, kendaraan listrik, energi baru terbarukan, dan industri manufaktur berbasis teknologi tinggi. Menurutnya, kolaborasi sumber daya Indonesia dan kekuatan teknologi Tiongkok melalui pendidikan vokasi yang kuat akan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama di tingkat global. “Kita punya sumber dayanya, mereka punya teknologinya. Kalau ini digabungkan melalui pendidikan vokasi yang kuat, Indonesia bisa menjadi pemain utama, bukan hanya penonton,” katanya.
Selain sesi pembukaan, kegiatan pagi juga diwarnai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara institusi pendidikan dan mitra industri dari Indonesia maupun Tiongkok. Penandatanganan ini menjadi simbol konkret dari komitmen bersama dalam memperluas kerja sama bidang magang industri, pengembangan laboratorium, sertifikasi kompetensi, riset bersama, hingga transfer teknologi. Pada saat yang sama, panitia juga menyerahkan penghargaan kepada institusi dan perusahaan yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam memperkuat kolaborasi pendidikan dan industri selama ini. Agenda tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan vokasi tidak dapat dicapai secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan jejaring kolaborasi yang kuat antara kampus, industri, dan pemerintah sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan.
Memasuki sesi inti, peserta mengikuti Panel Session 1: Curriculum Alignment yang membahas bagaimana perguruan tinggi vokasi perlu merancang kurikulum yang benar-benar selaras dengan perkembangan industri. Panel ini menghadirkan Prof. Wei Linhua dari Liuzhou Polytechnic University yang memaparkan praktik internasional dalam menyelaraskan kurikulum vokasi dengan transformasi industri. Dari Indonesia, hadir Darma Firmansyah Undayat, S.ST., M.T. dari Politeknik Manufaktur Bandung yang membagikan strategi praktis penyelarasan kurikulum pada pendidikan tinggi vokasi Indonesia. Perspektif Tiongkok turut diperkuat oleh kehadiran Assoc. Prof. Ms. Dong Simeng dari Sichuan University of Architectural Technology yang menjelaskan strategi implementasi kurikulum vokasi di Tiongkok. Diskusi ini menjadi sangat relevan karena banyak institusi pendidikan kini dituntut menghasilkan lulusan yang siap bekerja sejak hari pertama, mampu beradaptasi dengan otomatisasi, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Pada sesi berikutnya, Panel Session 2: Applied Research and Innovation menyoroti pentingnya riset terapan sebagai penggerak kemajuan industri dan pembangunan ekonomi. Sesi ini menghadirkan Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., Prof. Liang Yesheng dari Guang Xi Polytechnic of Construction, Mohamad Al-Arief dari Danantara Indonesia Investment Management Board, serta Wang Yaning dari PT QMB New Energy Materials. Para pembicara membahas model kolaborasi riset internasional, peran pendidikan tinggi terapan dalam membangun ekosistem inovasi, pentingnya investasi strategis untuk memperluas dampak riset, hingga transformasi hasil penelitian menjadi aplikasi industri pada sektor material energi baru. Tema ini penting karena perguruan tinggi vokasi masa kini tidak hanya dituntut mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga diharapkan menjadi pusat solusi yang mampu menjawab tantangan industri secara langsung.
Menjelang sore, rangkaian kegiatan berlanjut pada sesi Business Matching and Collaboration Establishment yang menjadi salah satu agenda paling strategis bagi peserta. Dalam sesi ini, perguruan tinggi, investor, mahasiswa, dan pelaku industri dipertemukan secara langsung untuk menjajaki peluang kerja sama konkret. Sejumlah perusahaan yang hadir antara lain Liugong Machinery Indonesia, PT CCC Environment, PT Huayou Nickel Cobalt, PT Gree Electric Appliances Indonesia, serta mitra industri lainnya dari Indonesia dan Tiongkok. Melalui pertemuan ini, peserta dapat membahas peluang magang, rekrutmen talenta, pengembangan pusat pelatihan, investasi fasilitas pembelajaran, hingga pembukaan proyek kolaboratif baru. Bagi mahasiswa dan lulusan vokasi, sesi ini menjadi kesempatan berharga untuk memahami kebutuhan dunia kerja sekaligus membangun jejaring profesional dengan perusahaan multinasional secara langsung.

Daya tarik lain CITIEA 2026 juga terlihat pada agenda Company Exhibition yang akan digelar pada 28 April 2026 pukul 09.00–15.00 WIB di Student Center GIK UGM. Berdasarkan poster resmi penyelenggara, pameran ini mengusung semangat Kickstart Your Global Networking! dan menghadirkan lebih dari 10 perusahaan top internasional dan multinasional. Peserta akan memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan para profesional industri, mengenal profil perusahaan global, mempelajari kebutuhan kompetensi terkini, serta membuka akses karier dan kolaborasi internasional. Kehadiran pameran ini menjadikan CITIEA bukan hanya forum akademik, tetapi juga jembatan nyata menuju dunia kerja global. Antusiasme peserta pun diperkirakan tinggi karena pendaftaran telah resmi dibuka oleh panitia melalui kanal registrasi daring.
Rangkaian hari pertama ditutup melalui Gala Dinner and Closing Ceremony yang dihadiri delegasi Indonesia dan Tiongkok. Momen ini menjadi ruang penting untuk mempererat hubungan antarlembaga, membangun komunikasi informal, dan membuka peluang kerja sama jangka panjang yang kerap lahir di luar sesi formal. Dalam banyak forum internasional, hubungan personal dan kepercayaan antarmitra justru menjadi faktor utama lahirnya kolaborasi besar di masa depan. Karena itu, gala dinner dalam CITIEA 2026 memiliki nilai strategis sebagai sarana memperkuat jejaring lintas negara secara lebih humanis dan berkelanjutan.
Melalui agenda yang komprehensif, kehadiran pembicara bergengsi, keterlibatan perusahaan multinasional, serta pembahasan isu-isu masa depan pendidikan vokasi, CITIEA 2026 menegaskan posisinya sebagai platform internasional yang mampu menjembatani kepentingan pendidikan dan kebutuhan industri global. Forum ini diharapkan memberi kontribusi nyata dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, inovatif, adaptif, dan siap bersaing di tingkat dunia, sekaligus memperluas peluang kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok pada era ekonomi baru.