Yogyakarta – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menjadi tuan rumah kegiatan sosialisasi International Industrial Talents Education Special Program (INTENSE) yang diselenggarakan oleh INTACT Base Bangka Belitung pada Selasa (9/6). Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah perguruan tinggi anggota konsorsium, antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPN Veteran Yogyakarta), dan Universitas Islam Indonesia (UII).

Audiensi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Alumni SV UGM, Dr. Endang Soelistiyowati, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi dan mitra internasional menjadi salah satu langkah strategis dalam memperluas peluang pengembangan kompetensi mahasiswa serta memperkuat jejaring pendidikan vokasi.

“SV UGM senantiasa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan informasi dan peluang baru bagi mahasiswa maupun institusi dalam mengembangkan kerja sama pendidikan, penelitian, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Direktur INTACT Base Bangka Belitung, Supriantono, B.E., M.B.A., bersama Advisory Consultant INTACT Base Bangka Belitung, Ir. Dedy Ramdhani Harahap, S.S.T., M.Sc. (Eng.), memaparkan berbagai peluang yang tersedia melalui program INTENSE. Program yang didukung oleh pemerintah Taiwan, perguruan tinggi, dan industri tersebut dirancang untuk mempersiapkan talenta pada bidang-bidang strategis, khususnya Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), semikonduktor, serta teknologi finansial.
Melalui program tersebut, mahasiswa berkesempatan memperoleh dukungan untuk melanjutkan studi di Taiwan, mengikuti program magang industri, serta mendapatkan pengalaman profesional di perusahaan-perusahaan mitra. Selain itu, peserta juga memperoleh pembekalan bahasa Mandarin sebagai persiapan sebelum menjalani studi dan aktivitas profesional di Taiwan.
Dalam pemaparannya, Supriantono menjelaskan bahwa program INTENSE dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri menjadi faktor penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan perkembangan teknologi dan inovasi di masa depan.
“Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional, tetapi juga mendapatkan kesempatan terlibat langsung di industri. Harapannya, kompetensi yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk berkontribusi bagi pembangunan Indonesia,” jelasnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan melalui konsorsium perguruan tinggi yang telah terbentuk. Selain program studi lanjut, peserta juga mendiskusikan peluang dual degree, penguatan kompetensi bahasa, serta pengembangan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan industri global.
Melalui kegiatan ini, para anggota konsorsium memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai program INTENSE sekaligus berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan mahasiswa. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan daya saing lulusan Indonesia.
Penulis: Tahnia Raya Rabbani