PIONIR PERMADANI 2026 Bekali 1.945 Gamada Vokasi Hadapi Era Perubahan Bersama Prof. Stella Christie

Yogyakarta, 6 Agustus 2026 – Sebanyak 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti rangkaian PIONIR PERMADANI 2026 yang diselenggarakan pada 5–6 Agustus 2026. Sebagai bagian dari PIONIR UGM, kegiatan orientasi ini menjadi wadah bagi Gamada Vokasi untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, budaya, nilai, serta kehidupan kemahasiswaan di Sekolah Vokasi UGM sebagai bekal memasuki dunia perkuliahan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, Ph.D.,
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, Ph.D.,

Selama dua hari pelaksanaan, PIONIR PERMADANI menghadirkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan kampus. Pada hari pertama, 5 Agustus 2026, mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan di masing-masing departemen, mulai dari pengenalan departemen, tur fasilitas pembelajaran, hingga sesi interaktif yang memperkenalkan kehidupan akademik sesuai bidang keilmuan. Selanjutnya, pada hari kedua, 6 Agustus 2026, seluruh Gamada Vokasi berkumpul dalam kegiatan tingkat sekolah yang diselenggarakan di Grha Sabha Pramana (GSP). Salah satu agenda utama pada hari kedua adalah talkshow inspiratif yang menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, Ph.D., sebagai narasumber utama.

Dalam sesi bertajuk “Masa Depan Indonesia Berawal dari Pendidikan Vokasi”, Prof. Stella mengajak mahasiswa baru untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah. Menurutnya, perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, sehingga kemampuan untuk terus belajar, bernalar, dan berpikir menjadi bekal utama agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Harvard University, ketika teknologi seperti smartphone maupun artificial intelligence belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, sebagai peneliti di bidang cognitive science, artificial intelligence justru menjadi salah satu bidang yang ia tekuni. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan untuk terus belajar akan selalu lebih penting daripada sekadar mengikuti perkembangan teknologi. 

Lebih lanjut, Prof. Stella menjelaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki dua peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, yakni memimpin pasar melalui inovasi dan merespons kebutuhan pasar melalui penyediaan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dalam konteks tersebut, pendidikan vokasi memegang peranan strategis karena menghasilkan talenta terampil yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus meningkatkan daya saing bangsa. 

Ia mencontohkan keberhasilan Shenzhen Polytechnic University di Tiongkok yang mampu membangun sinergi kuat dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei dan BYD. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri tersebut menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar sehingga terserap dengan baik di dunia kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Menurut Prof. Stella, penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu kunci dalam membangun pendidikan vokasi yang mampu mencetak lulusan berkualitas. 

Selain menekankan pentingnya kolaborasi dengan industri, Prof. Stella juga mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengalaman melalui program magang (internship). Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya menunggu kesempatan yang diberikan kampus, tetapi juga proaktif membangun pengalaman, memperluas jejaring profesional, dan menunjukkan kemampuan kepada calon pemberi kerja sejak masih menjalani perkuliahan. Pengalaman magang, menurutnya, menjadi salah satu cara paling efektif untuk membuktikan kompetensi sekaligus membuka peluang memperoleh pekerjaan setelah lulus. 

Menjawab tantangan perkembangan teknologi, Prof. Stella turut memperkenalkan gagasan pemanfaatan artificial intelligence sebagai personalized individual coach yang dapat membantu mahasiswa memetakan kompetensi, mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan, hingga memberikan rekomendasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan karier masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih personal dan adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja di masa depan. 

Menutup sesi talkshow, Prof. Stella kembali menegaskan bahwa kemampuan fundamental akan selalu menjadi bekal utama dalam menghadapi perubahan apa pun. Ia optimistis mahasiswa Sekolah Vokasi UGM memiliki kesempatan besar untuk berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

“Satu-satunya yang tidak akan berubah di dunia ini adalah selalu ada perubahan. Yang paling penting, yang kita punyai, yang akan bisa menghadapi perubahan apa pun perubahannya, adalah kemampuan bernalar, kemampuan untuk belajar, dan kemampuan untuk berpikir. Saya yakin kalian di Vokasi UGM akan mendapatkan itu seoptimal mungkin, dan membuka peluang yang lebih besar lagi untuk membawa negara ini lebih baik lagi, lebih cemerlang,” tutup Prof. Stella. 

Penulis: Tahnia Raya Rabbani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*