Merauke, 26 September 2026 — Produk lokal masyarakat memiliki potensi untuk berkembang lebih luas ketika kualitas produk diikuti dengan kemasan yang menarik, identitas merek yang kuat, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Melihat potensi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan pendampingan kepada masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, melalui workshop “Transformasi Produk Lokal: Kreativitas Pengemasan dan Pemanfaatan AI sebagai Alat Bantu Pemasaran Produk Olahan Rumah Tangga”. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu masyarakat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses pemasaran.

Ketua TEP UGM bidang Digipangan.id, Dr. Faiz Zamzami, SE., M.Acc. mengatakan bahwa pengembangan produk masyarakat tidak cukup hanya berfokus pada kualitas produk. Kemampuan mengemas, membangun identitas, dan memperkenalkan produk kepada konsumen menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing.
“Kami berharap masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk yang baik, tetapi juga memahami bagaimana produk tersebut dikemas, diperkenalkan, dan dipasarkan dengan lebih menarik. Pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dapat menjadi alat bantu yang sederhana namun bermanfaat untuk mendukung proses tersebut,” ujar Faiz.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai kreativitas pengemasan dan branding produk lokal yang disampaikan pakar dan dosen bidang kewirausahaan UGM Fitri Damayanti Berutu, S.E., S.S., M.Sc. Peserta diperkenalkan pada berbagai aspek pengembangan kemasan, mulai dari bentuk dan bahan, tampilan visual, informasi produk, hingga pembentukan karakter dan identitas produk. Menurut Fitri, kemasan bukan sekadar pelindung, tetapi juga menjadi media komunikasi yang dapat menyampaikan cerita dan karakter produk kepada konsumen. Pemanfaatan AI juga diperkenalkan sebagai alat bantu untuk menemukan ide desain, konsep komunikasi, serta alternatif materi branding.
“Produk lokal memiliki cerita, karakter, dan potensi yang bisa ditampilkan melalui kemasan. Dengan kreativitas dan bantuan teknologi AI, masyarakat dapat mencoba membuat konsep branding yang lebih menarik tanpa harus selalu bergantung pada tenaga profesional,” jelas Fitri.
Selain aspek kreativitas, TEP UGM juga menekankan pentingnya keamanan dan informasi produk. Vina Afristalianti, S.T.P., memberikan materi mengenai aspek teknis pengemasan dan penentuan tanggal kedaluwarsa. Peserta memperoleh pemahaman bahwa pemilihan jenis kemasan, kondisi produk, penyimpanan, serta informasi masa simpan perlu disesuaikan dengan karakteristik produk. Dengan demikian, kemasan yang menarik tetap harus berjalan beriringan dengan kualitas dan keamanan produk bagi konsumen.
Pemanfaatan AI kemudian dipraktikkan secara langsung oleh peserta melalui sesi yang dibawakan Romanus Hadyanto, S.Kom., M.Cs. Peserta menggunakan Gemini AI untuk mengembangkan ide promosi, menyusun caption, menentukan konsep komunikasi, hingga membuat rancangan poster produk. Pendekatan praktik dipilih agar peserta dapat melihat bahwa AI bukan sekadar teknologi yang bersifat konseptual, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan usaha sehari-hari.
“Kami berharap peserta tidak berhenti pada tahap mengetahui apa itu AI. Mereka bisa langsung mencoba dan menggunakannya untuk kebutuhan usaha, misalnya membuat ide promosi, caption, maupun konsep poster produk. Dengan begitu, AI dapat menjadi alat bantu yang praktis dalam kegiatan pemasaran,” ungkap Hadyanto. Ia juga menekankan bahwa hasil AI tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan kondisi sebenarnya dari produk dan usaha.
Bagi TEP UGM, transformasi produk lokal tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengetahuan mengenai kemasan, branding, dan AI diharapkan dapat diterapkan langsung oleh masyarakat pada produk yang mereka hasilkan. Tahap selanjutnya juga diarahkan pada pemanfaatan Digipangan.id sebagai salah satu media untuk memperkenalkan produk masyarakat kepada pasar yang lebih luas. Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat menampilkan informasi mengenai produk, harga, dan berbagai informasi lain sehingga produk lokal lebih mudah dikenal calon konsumen.

Faiz menegaskan bahwa keberhasilan pendampingan akan ditentukan oleh keberlanjutan penerapan di tingkat masyarakat.
“Kami berharap workshop ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Setelah kembali ke tempat usaha masing-masing, peserta dapat mencoba memperbaiki kemasan, mengembangkan branding, dan menggunakan teknologi digital untuk mempromosikan produk. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari proses pengembangan usaha masyarakat,” katanya.
Melalui pendampingan tersebut, TEP UGM mendorong masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting untuk melihat produk lokal bukan hanya sebagai hasil produksi, tetapi sebagai aset ekonomi yang dapat dikembangkan melalui kreativitas dan teknologi. Dari kemasan yang lebih baik, identitas produk yang lebih kuat, hingga pemasaran berbasis AI dan platform digital, langkah-langkah sederhana tersebut diharapkan membuka peluang produk lokal untuk menjangkau konsumen yang lebih luas sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Upaya ini sekaligus berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).