Yogyakarta, 30 Juli 2026 – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bekerja sama dengan Bosshire Indonesia, Boss Talk, PT Sepatu Kreatif Indonesia, Mataram City, dan Ruang Industri Berdampak menyelenggarakan Talkshow Session bertajuk “Memahami Workplace Politics untuk Bertahan dan Berkembang di Dunia Kerja” pada Kamis (30/7). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (30/7) ini menekankan pentingnya komunikasi, etika profesional, pengelolaan reputasi, dan kemampuan membangun relasi dalam mendukung perkembangan karier bagi mahasiswa dan calon lulusan.
![]()
Kegiatan menghadirkan Glen Karela, Corporate Political Architect sekaligus penulis The Invisible Game; Justinus Sukotjo, profesional keuangan dan direktur; serta Rizky Herianto, Head of Human Resources PT Sepatu Kreatif Indonesia (Vivo Indonesia). Diskusi dipandu oleh Jonathan Pakpahan dari Bosshire Indonesia dengan mengangkat berbagai perspektif mengenai workplace politics sebagai keterampilan yang perlu dipahami secara positif dalam dunia profesional..
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM, Dr. Ir. Wiryanta, S.T., M.T. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi akademik, tetapi juga oleh pemahaman terhadap budaya organisasi dan etika profesional. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami aturan, dinamika, dan tanggung jawab yang berlaku di lingkungan kerja agar mampu beradaptasi dengan baik sejak awal berkarier.
Wiryanta juga menyoroti pentingnya menjaga profesionalisme, termasuk dalam penggunaan media sosial. Ia menyampaikan bahwa masih ditemukan kasus peserta magang yang secara tidak sadar membagikan informasi internal perusahaan melalui media sosial sehingga menimbulkan keluhan dari mitra industri. Oleh karena itu, ia berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami etika, batasan, serta budaya kerja yang berlaku di dunia profesional.
Dalam pemaparannya, Glen Karela menjelaskan bahwa politik di tempat kerja bukanlah sesuatu yang selalu bermakna negatif. Menurutnya, setiap individu perlu memiliki political skill, yaitu kemampuan memahami dinamika organisasi, membangun relasi, membaca pemangku kepentingan, serta mengelola persepsi secara profesional untuk mencapai tujuan bersama. Ia menegaskan bahwa kompetensi merupakan modal awal untuk memasuki dunia kerja, sedangkan kemampuan membangun jejaring dan memahami dinamika organisasi menjadi faktor yang menentukan perkembangan karier seseorang.
Glen juga memperkenalkan konsep impression management, yaitu kemampuan membangun reputasi profesional secara autentik tanpa harus bersikap manipulatif. Ia menjelaskan bahwa banyak individu memiliki kinerja yang baik, tetapi kurang dikenal karena tidak mampu menunjukkan kontribusinya kepada organisasi. Sebaliknya, terdapat pula individu yang memiliki visibilitas tinggi meskipun kontribusinya tidak sebesar yang terlihat. Oleh karena itu, membangun reputasi melalui komunikasi yang tepat, relasi yang sehat, dan visibilitas yang positif menjadi bagian penting dalam perjalanan karier.
Dari perspektif praktisi,Justinus Sukotjo mengingatkan bahwa keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh sikap profesional (attitude) yang ditunjukkan dalam keseharian. Menurutnya, kemampuan membangun hubungan baik dengan rekan kerja lintas divisi, menghargai orang lain, serta menjaga komunikasi yang efektif menjadi fondasi penting dalam membangun karier jangka panjang. Ia juga menekankan pentingnya mengedepankan common sense dalam mengambil keputusan sehingga setiap tindakan yang dilakukan tidak hanya berdasarkan penilaian pribadi, tetapi juga mempertimbangkan situasi dan dampaknya bagi organisasi.
Sementara itu, Rizky Herianto menjelaskan bahwa workplace politics dapat dipahami sebagai kemampuan membangun visibilitas atas hasil kerja secara sehat dan profesional. Ia mendorong peserta untuk berani menyampaikan ide, aktif berdiskusi, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk menunjukkan kontribusi nyata kepada organisasi. Menurutnya, visibilitas perlu dibangun melalui kinerja yang baik, bukan melalui perilaku mencari perhatian.
Ia juga menilai pengalaman berorganisasi sebagai salah satu bekal penting bagi mahasiswa. Keterlibatan dalam organisasi membantu mahasiswa terbiasa bekerja dalam tim, berinteraksi dengan beragam karakter, menghadapi konflik, dan menyelesaikan persoalan secara kolaboratif. Kompetensi tersebut menjadi nilai tambah ketika memasuki proses rekrutmen maupun lingkungan kerja profesional.
Melalui penyelenggaraan talkshow ini, Sekolah Vokasi UGM berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang kuat, tetapi juga memahami pentingnya komunikasi, kemampuan membangun jejaring profesional, etika bekerja, serta kecerdasan membaca dinamika organisasi. Bekal tersebut diharapkan mampu membantu lulusan Sekolah Vokasi UGM menjadi talenta yang adaptif, profesional, dan siap memberikan kontribusi positif di berbagai sektor industri.
“Attitude menjadi fondasi utama dalam dunia kerja. Kompetensi dapat dipelajari dan terus dikembangkan, tetapi sikap profesional, kemampuan membangun hubungan yang baik, serta common sense dalam menghadapi berbagai situasi adalah hal yang akan membuat seseorang dipercaya dan terus berkembang,” tutup Justinus Sukotjo.