KULON PROGO – Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM. menyusun studi awal pengembangan Smart Nursery kopi di Dusun Kalinongko, Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini mengintegrasikan pengetahuan masyarakat, kondisi biofisik wilayah, dan kebutuhan teknis pembibitan sebagai dasar pengembangan persemaian kopi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Denni menjelaskan bahwa pengembangan Smart Nursery tidak hanya diarahkan pada penerapan teknologi, tetapi dimulai dari kebutuhan masyarakat dan kondisi nyata di lapangan. Bersama tim peneliti Sekolah Vokasi UGM, penelitian dilakukan melalui wawancara dengan petani, observasi lokasi, pemetaan menggunakan drone dan GPS, serta studi literatur untuk memahami praktik pembibitan, ketersediaan air, aksesibilitas, kondisi topografi, dan iklim setempat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Pagerharjo telah memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai pembibitan kopi. Namun, beberapa kendala masih ditemukan, seperti belum tersedianya persemaian, permasalahan bibit, dan keterbatasan air pada musim kemarau.
Berdasarkan penjaringan kebutuhan masyarakat, sistem irigasi otomatis menjadi prioritas utama, disusul oleh ketersediaan air. Sumur bor, reservoir, dan pelatihan operator juga menjadi kebutuhan penting. Menurut tim, temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi Smart Nursery perlu dikembangkan secara bertahap, dimulai dari penyelesaian kebutuhan dasar air dan penguatan kemampuan pengelola.

Analisis biofisik yang dilakukan tim menunjukkan bahwa Pagerharjo memiliki topografi yang cukup beragam. Sekitar 63 persen wilayah memiliki kemiringan lebih dari 25 persen, sehingga lokasi persemaian perlu dipilih pada area yang relatif landai dan mudah diakses. Suhu rata-rata tahunan sekitar 23,1°C dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.068 mm per tahun. Meski demikian, periode Juli hingga September merupakan musim yang relatif kering sehingga sistem penyimpanan air dan irigasi menjadi bagian penting dalam rancangan.
Dari hasil kajian tersebut, tim peneliti menyusun rancangan awal Smart Nursery dengan luas total sekitar 0,304 hektare, terdiri atas area persemaian 0,027 ha, kebun induk 0,077 ha, dan kebun edukasi 0,2 ha. Kawasan tersebut dirancang tidak hanya untuk mendukung produksi bibit, tetapi juga sebagai ruang demonstrasi, pelatihan, dan pembelajaran bagi kelompok tani dan masyarakat.
Ke depan, tim peneliti Sekolah Vokasi UGM akan merencanakan kajian lanjutan berupa feasibility study sumber air, penyusunan Detail Engineering Design (DED), serta pengembangan sistem irigasi otomatis, reservoir, energi surya, dan monitoring berbasis IoT. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu sebagai mitra dalam pengembangan sarana, teknologi, dan kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata.
Melalui studi awal ini, Smart Nursery diharapkan dapat mendukung kemandirian produksi bibit kopi sekaligus menjadi pusat pembelajaran dan demonstrasi teknologi pembibitan yang relevan dengan kondisi masyarakat Pagerharjo.