Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Film horor Indonesia Setan Alas! (The Draft!) resmi diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan press conference yang digelar di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Film ini tidak hanya menjadi karya sinema, tetapi juga mencerminkan praktik pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan dosen, mahasiswa, masyarakat, serta institusi pendidikan vokasi lintas jenjang dalam satu ekosistem kreatif kampus.

Kegiatan press conference tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan dan perwakilan sivitas akademika Sekolah Vokasi UGM, di antaranya Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM Dr. Ir. Wiryanta, S.T., M.T., Dekan Sekolah Vokasi UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., sutradara film sekaligus dosen Sekolah Vokasi UGM Yusron Fuadi, S.Sn., M.Sn., serta Andhika Rahmanu, alumni Sekolah Vokasi UGM yang berperan sebagai game developer Ganyang Setan Alas.
Film Setan Alas! disutradarai oleh Yusron Fuadi, dosen bidang Elektro Sekolah Vokasi UGM, Setan Alas! lahir dari proses akademik dan praktik lintas disiplin. Yusron memiliki latar belakang pendidikan seni rupa dan pertunjukan pada jenjang S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia (ISI), sebelum kemudian berkiprah sebagai pendidik di UGM. Ide film ini bermula dari tantangan pengembangan laboratorium multimedia di lingkungan kampus yang kemudian berkembang menjadi proyek film layar lebar yang melibatkan mahasiswa secara langsung.

“Film ini berawal dari tantangan membangun laboratorium multimedia di kampus. Dari situ muncul gagasan untuk membuat film yang fun, enak ditonton, dan komunikatif, sekaligus menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa,” ujar Yusron Fuadi.
Berbeda dari film horor arus utama yang mengandalkan efek jumpscare sebagai elemen utama ketakutan, Setan Alas! tmembangun nuansa horor melalui atmosfer, dialog, permainan cahaya dan kegelapan, serta konstruksi cerita yang berkembang secara perlahan. Penonton diajak merasakan ketegangan secara psikologis melalui kisah lima mahasiswa dengan latar belakang berbeda yang tersesat di sebuah hutan, di mana teror tumbuh melalui tekanan batin, konflik, dan situasi yang semakin mencekam.
Proses produksi film ini berlangsung di kawasan Kaliurang, Yogyakarta dan melibatkan ratusan orang. Sekitar separuh kru produksi merupakan mahasiswa, sehingga film ini menjadi ruang belajar langsung berbasis praktik. Mahasiswa terlibat dalam berbagai aspek produksi, mulai dari teknis, artistik, hingga manajerial, sekaligus memperoleh pengalaman nyata terkait kerja tim, manajemen produksi, serta penyelesaian masalah di lapangan.
Selain melibatkan mahasiswa dan dosen UGM, produksi Setan Alas! juga melibatkan kolaborasi dengan SMK Negeri 6 Yogyakarta dan SMK Negeri 6 Surakarta. Siswa dan guru dari kedua sekolah tersebut berkontribusi dalam bidang tata rias dan busana, serta sebagai pemeran dalam film. Kolaborasi ini menjadi wujud pembelajaran vokasi lintas jenjang yang memberikan pengalaman langsung bagi siswa SMK dalam produksi film profesional.
Dekan Sekolah Vokasi UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng. menegaskan bahwa film ini menunjukkan peran kampus vokasi sebagai ruang belajar yang aplikatif dan kontekstual. “Melalui film Setan Alas!, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi terlibat langsung dalam proses kreatif yang sesungguhnya. Ini adalah contoh pembelajaran vokasi yang kolaboratif dan relevan dengan kebutuhan industri kreatif,” ujarnya.
Sebagai film yang diproduksi oleh studio independen, Setan Alas! menghadapi berbagai tantangan selama proses produksi. Kendala utama berasal dari aspek pendanaan, di samping faktor cuaca yang beberapa kali menghentikan proses syuting. Tantangan juga muncul pada tahap distribusi, di mana film independen masih menghadapi hambatan di pasar dalam negeri, terlebih dengan jadwal penayangan yang berdekatan dengan bulan Ramadhan.
Sejak diproduksi pada periode 2022–2023, Setan Alas! telah memperoleh berbagai pengakuan nasional. Pada Indonesian Script Award 2023, film ini meraih Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing. Film ini juga telah melakukan pemutaran perdana internasional di Fantastic Fest 2024 di Texas, Amerika Serikat, serta diputar di London dan Toronto dengan respons positif dari penonton internasional.
Pengembangan Setan Alas! tidak berhenti pada film layar lebar. Sebuah game adaptasi juga dikembangkan oleh alumni SV UGM Andhika Rahmanu di bawah bimbingan langsung sutradara. Game tersebut telah dirilis di platform Steam dan Play Store dengan dukungan resolusi hingga 4K. Proyek ini sekaligus membuka peluang penerapan pembelajaran berbasis proyek di Sekolah Vokasi.
Pemilihan judul Setan Alas! memiliki makna tersendiri karena berasal dari ungkapan lama yang kini hampir tidak digunakan. Melalui film ini, istilah tersebut dihidupkan kembali sebagai bagian dari konservasi bahasa dalam konteks budaya populer. Kedepannya, pengembangan film di lingkungan kampus UGM diharapkan dapat menginspirasi kampus-kampus lain dalam membangun ekosistem perfilman berbasis pendidikan yang komunikatif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan industri kreatif nasional.
Penulis: Tahnia Raya Rabbani