Mahasiswi SV UGM Kembangkan NUSAGLOW, Inovasi Sabun Cair Rumput Laut untuk Dorong Ekonomi Desa Lembongan

Nusa Lembongan, Klungkung – Mahasiswi Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), Aisyah Yasmina Nasywa, bersama tim KKN-PPM UGM Unit Nirwana Nusa Penida berhasil mengembangkan NUSAGLOW Seaweed Hand & Body Wash, inovasi sabun cair berbahan dasar rumput laut yang memanfaatkan potensi lokal Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.

Aisyah Yasmina Nasywa, bersama tim KKN-PPM UGM Unit Nirwana Nusa Penida berhasil mengembangkan NUSAGLOW Seaweed Hand & Body Wash
Aisyah Yasmina Nasywa, bersama tim KKN-PPM UGM Unit Nirwana Nusa Penida berhasil mengembangkan NUSAGLOW Seaweed Hand & Body Wash

Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut sekaligus membuka peluang usaha berbasis masyarakat yang mendukung perekonomian desa dan sektor pariwisata. Produk tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui demonstrasi pembuatan sabun yang dilaksanakan pada 3 Agustus 2026 di Ruang Rapat Kantor Perbekel Desa Lembongan.

Berbagi Ilmu Bersama Ibu-ibu PKK Lembongan
Berbagi Ilmu Bersama Ibu-ibu PKK Lembongan

Program ini merupakan bagian dari KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 bertema “Penguatan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir Berbasis Ekonomi Sirkular di Desa Jungutbatu dan Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali” di bawah bimbingan Ir. Kurnia Widiastuti, S.T., M.T., IPM.

Dalam pelaksanaannya, Aisyah berkolaborasi dengan mahasiswa lintas fakultas, yaitu Ikfina Musyahadah Azzahro (Fakultas Teknologi Pertanian), Alvina Harfanindya Arsanti (Fakultas Kehutanan), dan Meilany Adi Susilowati (Fakultas Pertanian). Masing-masing berkontribusi dalam pengembangan formulasi, produksi, branding, pemasaran, hingga pemberdayaan masyarakat.

Selama kurang lebih tiga bulan, sejak Mei hingga Juli 2026, tim melakukan identifikasi potensi daerah, studi literatur, penyusunan formulasi, pemilihan bahan baku, pengembangan identitas merek, hingga strategi pemasaran agar produk dapat diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Lembongan.

rumput laut sebagai potensi utama Desa Lembongan dapat terus dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah
rumput laut sebagai potensi utama Desa Lembongan dapat terus dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah

Sebelum menyusun formulasi, tim melakukan observasi ke kawasan budidaya rumput laut dan berdiskusi dengan petani setempat. Hasil observasi menunjukkan bahwa Eucheuma cottonii melimpah di Desa Lembongan, namun sebagian besar masih dipasarkan sebagai bahan mentah. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan produk hilir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Pengembangan formulasi NUSAGLOW
Pengembangan formulasi NUSAGLOW

Pengembangan formulasi NUSAGLOW dipimpin oleh Aisyah melalui pendekatan berbasis riset yang meliputi studi pustaka, penelusuran referensi formulasi, pemilihan bahan baku, hingga penyusunan prosedur produksi dengan mempertimbangkan stabilitas produk, keamanan penggunaan, dan kemudahan proses produksi. Tahap produksi dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM pada 18 Juni 2026 dan menghasilkan sekitar empat liter sabun sebagai batch awal untuk evaluasi mutu dan demonstrasi.

NUSAGLOW dikembangkan dalam kemasan utama 300 mL serta ukuran sampel 30 mL dan 15 mL. Produk tersedia dalam dua varian aroma, yaitu Lavender dan Tropical Fruit, yang dirancang untuk memperkuat identitas Desa Lembongan sebagai destinasi wisata tropis. Konsep merek “Inspired by Local Seaweed Heritage” juga dikembangkan untuk mengangkat nilai budaya dan potensi lokal.

Sebelum diperkenalkan kepada masyarakat, produk terlebih dahulu diuji oleh 30 mahasiswa KKN-PPM UGM serta diperkenalkan kepada perangkat desa dan pelaku usaha Hotel, Restaurant, dan Café (HOREKA). Masukan yang diperoleh digunakan untuk menyempurnakan formulasi, desain kemasan, dan strategi pemasaran.

Puncak kegiatan dilaksanakan melalui demonstrasi pembuatan NUSAGLOW yang diikuti sekitar 30 anggota PKK Desa Lembongan. Peserta tidak hanya mempelajari proses pembuatan sabun, tetapi juga memperoleh pelatihan mengenai perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), strategi penentuan harga jual, branding, desain kemasan, hingga pemasaran produk.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim juga menyerahkan modul pelatihan, video tutorial, template perhitungan HPP, dan desain kemasan agar masyarakat dapat melanjutkan produksi secara mandiri setelah program KKN selesai.

Sekretaris PKK Desa Lembongan, Ni Nyoman Sri Lestari, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan rumput laut menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sementara itu, Aisyah menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan NUSAGLOW tidak hanya menghasilkan produk sabun cair, tetapi juga mendorong keberlanjutan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Sejak awal kami tidak ingin hanya mengajarkan cara membuat sabun. Kami ingin masyarakat memiliki bekal untuk melanjutkan produksi secara mandiri setelah KKN selesai. Harapan kami, rumput laut sebagai potensi utama Desa Lembongan dapat terus dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah, berdaya saing, dan mampu mendukung perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat identitas Lembongan sebagai destinasi wisata,” ujar Aisyah.

Melalui kolaborasi mahasiswa lintas disiplin bersama Pemerintah Desa Lembongan, PKK, petani rumput laut, BUMDes, dan pelaku usaha pariwisata, NUSAGLOW diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong hilirisasi komoditas rumput laut. Inovasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa Sekolah Vokasi UGM dalam mengembangkan solusi berbasis potensi lokal yang mendukung pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Penulis: Aisyah YN

Editor: Humas SV

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*